Program Studi S1 Hukum Bisnis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Semarang (FEB UNIMUS) menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui penyelenggaraan Workshop Penyusunan Kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE). Kegiatan yang mengusung tema “Penyusunan Kurikulum Program Studi S1 Hukum Bisnis Berbasis Outcome Based Education (OBE) sesuai Kompetensi dan Kebutuhan Industri di Era Digital” ini dilaksanakan pada Rabu, 22 April 2026, bertempat di Ruang Rapat lantai 2 Gedung Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Workshop ini menjadi momentum strategis bagi pengembangan kurikulum yang adaptif, relevan, dan berorientasi pada kebutuhan dunia kerja serta perkembangan industri digital. Kegiatan ini juga memperkuat sinergi antar perguruan tinggi dalam rangka peningkatan mutu pendidikan tinggi, khususnya di bidang hukum bisnis.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Dekan FEB UNIMUS, Dr. Andwiani Sinarasri, S.E., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan ini serta harapan besar terhadap pendampingan yang diberikan oleh pihak FHIP UMS. Ia menekankan pentingnya arahan, review, dan pendampingan berkelanjutan dalam proses penyusunan kurikulum, sehingga Program Studi S1 Hukum Bisnis dapat berkembang menjadi lebih baik dan mampu mencetak lulusan yang unggul. Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran pimpinan FHIP UMS atas dukungan dan kolaborasi yang terjalin.

Sambutan sekaligus penyampaian materi utama disampaikan oleh Dekan FHIP UMS, Prof. Dr. Kelik Wardiono, S.H., M.H. Dalam paparannya, beliau menegaskan bahwa kurikulum tidak sekadar menjadi dokumen administratif dalam proses pembelajaran, melainkan merupakan blueprint yang menentukan arah dan kualitas output sebuah lembaga pendidikan. Ia menyoroti bahwa tujuan pendidikan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang memperoleh ijazah, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki nilai kemanusiaan, rasionalitas, dan kesadaran sebagai subjek hukum.

Lebih lanjut, Prof. Kelik menjelaskan bahwa kurikulum harus dirancang secara serius dan substantif agar mampu memberikan manfaat nyata, tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga bagi masyarakat dan pengguna lulusan. Ia menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dalam pembelajaran hukum, sehingga lulusan tidak hanya memahami aspek normatif, tetapi juga mampu melihat hukum sebagai instrumen yang berorientasi pada keadilan dan kemanusiaan.
Dalam sesi inti workshop, dibahas berbagai pokok penting terkait penyusunan kurikulum S1 Hukum Bisnis berbasis OBE. Salah satu fokus utama adalah perbedaan mendasar antara program studi S1 Hukum secara umum dengan S1 Hukum Bisnis. Perbedaan nomenklatur tersebut harus diikuti dengan perbedaan kompetensi dan profil lulusan yang dihasilkan. S1 Hukum Bisnis dituntut memiliki keunggulan khusus, terutama dalam memahami dinamika bisnis, termasuk bisnis digital.
Selain itu, dibahas pula perbedaan antara hukum bisnis konvensional dan hukum bisnis digital, yang menjadi semakin relevan di era transformasi digital saat ini. Hal ini menuntut kurikulum yang tidak hanya berbasis teori, tetapi juga mampu menjawab tantangan praktik di lapangan.
Prof. Kelik juga menekankan bahwa keberhasilan kurikulum tidak diukur dari tingkat kelulusan semata, melainkan dari sejauh mana lulusan mampu memberikan manfaat nyata sesuai dengan profil yang telah dirancang, terutama dalam kurun waktu 2–3 tahun setelah lulus. Oleh karena itu, penentuan profil lulusan menjadi aspek krusial sebagai inti dari pengembangan kurikulum.
Dalam sesi review, berbagai masukan strategis disampaikan untuk penyempurnaan kurikulum. Di antaranya adalah pentingnya membedakan antara visi kelembagaan dan visi keilmuan, penyesuaian kebutuhan pada tingkat fakultas dan program studi, serta mempertimbangkan profesi advokat sebagai bagian dari profil lulusan.


Tidak hanya itu, aspek kewirausahaan juga menjadi sorotan utama. Program studi didorong untuk menonjolkan semangat legal entrepreneur, yaitu lulusan yang tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja. Hal ini sejalan dengan kebutuhan industri yang semakin dinamis dan kompetitif.
Penguatan karakter lulusan sebagai penegak hukum yang bereputasi internasional, berbasis teknologi, serta berlandaskan nilai-nilai Islam juga menjadi poin penting dalam penyusunan kurikulum. Kurikulum diharapkan mampu merepresentasikan seluruh karakter tersebut secara utuh dan terintegrasi.
Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal yang signifikan dalam menghasilkan kurikulum S1 Hukum Bisnis yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global. Dengan pendekatan Outcome Based Education, FEB UNIMUS optimis dapat mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia industri serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

