Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unimus

Semarang – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) melaksanakan kegiatan Dialog Kebangsaan dalam rangka Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI bagi Generasi Muda Menyongsong Indonesia Emas, pada Senin, 29 Desember 2025, bertempat di Aula Gedung Kuliah Bersama (GKB) III Lantai 1 Kampus Unimus. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa FEB Unimus dengan penuh antusias sebagai bagian dari upaya penguatan wawasan kebangsaan dan karakter generasi muda.

Kegiatan Dialog Kebangsaan ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman yang komprehensif mengenai nilai-nilai kebangsaan serta peran strategis generasi muda dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Melalui dialog ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami tantangan dan peluang bangsa di masa depan serta mempersiapkan diri sebagai sumber daya manusia unggul dan berkarakter.

Acara dibuka dengan sambutan Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Semarang, Prof. Dr. Budi Santosa, M.Si., M.Ed. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kegiatan dialog kebangsaan bagi generasi muda, khususnya mahasiswa sebagai agen perubahan. Menurutnya, pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan menjadi fondasi penting dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompetitif. Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, berintegritas, serta berwawasan kebangsaan.

Sebagai narasumber utama, Dr. H. Muhdi, S.H., M.Hum. menyampaikan materi tentang Bonus Demografi Indonesia Emas Abad ke-21. Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa Indonesia sedang berada pada momentum emas bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif sangat besar. Kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan, karena persaingan semakin ketat namun peluang terbuka luas. Oleh karena itu, mahasiswa harus mampu mempersiapkan diri sejak dini agar dapat mengambil peran strategis dalam pembangunan bangsa.

Dr. H. Muhdi menegaskan bahwa kunci utama menuju Indonesia Emas adalah kualitas sumber daya manusia. Bangsa yang besar tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam, tetapi oleh manusia yang cerdas, sehat, berkarakter, dan berdaya saing. Indonesia saat ini berada pada fase “tinggal landas” menuju Indonesia Emas yang adil, makmur, dan sejahtera.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Indonesia Emas dibangun atas tiga pilar utama, yaitu human capital, modal masyarakat, dan kelembagaan. Human capital mencakup pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, modal masyarakat diwujudkan melalui kemandirian ekonomi seperti penguatan UMKM, sementara kelembagaan meliputi peran lembaga tinggi negara seperti Presiden dan Wakil Presiden, DPR, DPD, MPR, Mahkamah Konstitusi (MK), Mahkamah Agung (MA), Komisi Yudisial (KY), serta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Dalam pemaparannya, Dr. H. Muhdi juga menekankan syarat utama agar Indonesia dapat menjadi negara maju pada tahun 2045. Keberhasilan tersebut sangat bergantung pada kemampuan bangsa dalam menciptakan pendidikan menengah yang berkualitas dan inklusif, universitas yang berkualitas dan inklusif, ekonomi yang inklusif, serta politik yang inklusif. Apabila salah satu unsur tersebut tidak terpenuhi, maka sebuah negara akan sulit mencapai kemajuan.

Selain itu, beliau mengutip hasil penelitian Dale Carnegie terkait penentu kesuksesan seseorang. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa keterampilan teknis atau intelektualitas hanya berkontribusi sebesar 15 persen, sedangkan soft skill dan karakter menyumbang hingga 85 persen. Karakter yang tangguh menjadi modal utama dalam membentuk pemimpin masa depan yang mampu menghadapi tantangan zaman.

Mahasiswa juga diingatkan untuk memiliki pola pikir jangka panjang, bahwa berusaha dan bekerja keras saat ini akan menghasilkan kenikmatan di masa depan, sedangkan bersantai di masa muda justru akan membawa kesulitan di kemudian hari. Dalam konteks pembangunan karakter, disampaikan pula nilai-nilai karakter utama bangsa, di antaranya religius, mandiri, bermanfaat bagi sesama, bermoral, sehat, cerdas, kreatif, kerja keras, disiplin, serta tertib.

Karakter bangsa Indonesia, menurut Dr. H. Muhdi, merupakan prinsip nilai-nilai kebangsaan yang dibangun secara terus-menerus dan berkelanjutan melalui pendidikan dan kebudayaan. Oleh sebab itu, mahasiswa harus berani mengambil risiko dan keluar dari zona nyaman, karena tanpa keberanian mengambil risiko, seseorang tidak akan memperoleh keuntungan dan kemajuan yang besar.

Kegiatan Dialog Kebangsaan ini berlangsung secara interaktif. Mahasiswa terlihat sangat antusias mengikuti jalannya acara, khususnya pada sesi diskusi dan tanya jawab. Berbagai pertanyaan dan tanggapan yang disampaikan menunjukkan kepedulian mahasiswa terhadap masa depan bangsa serta kesiapan mereka untuk berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas.

Melalui kegiatan ini, FEB Unimus berharap mahasiswa tidak hanya memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga karakter kebangsaan yang kuat, sehingga mampu menjadi generasi penerus yang siap membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih maju, adil, dan sejahtera.